Leadership Minus Followership?

[dropcap]A[/dropcap]hli kejiwaan Stanley Milgram pernah melakukan eksperimen yang kontroversial soal kepatuhan pengikut dalam menjalankan perintah. Percobaan ini dilakukan pada dekade 1960-an guna menjawab pertanyaan mengapa ada orang yang taat diperintah untuk menyiksa orang lain seperti dilakukan Nazi terhadap orang-orang Yahudi di Eropa.

Riset ini cukup kontroversial karena menggunakan metode yang dianggap tidak lazim. Eksperimen ini berusaha menjelaskan bagaimana orang bisa begitu patuh terhadap perintah dari pihak yang dianggap memiliki otoritas.

Dalam kasus ini, responden (seolah-olah) menyetrum orang yang salah dalam menjawab pertanyaan, dengan intensitas sengatan yang terus meningkat sampai dapat menimbulkan celaka. Dari ribuan partisipan, sangat sedikit yang menolak menjalankan perintah sampai sengatan terakhir.

Laporan Milgram mengenai psikologi kepatuhan mengungkapkan bahwa sebagian besar orang cenderung mengikuti apa pun yang diperintahkan otoritas, bahkan ketika hal yang diperintahkan itu menyakiti orang lain.

Nah, eksperimen Milgram ini menjadi semakin menarik jika dikaitkan dengan hubungan antara pemimpin (leader) dan pengikut (followers). Bagi saya, eksperimen Milgram ini menunjukkan betapa banyak pengikut yang patuh begitu saja, tanpa daya kritis, tanpa reserve, padahal sebenarnya menolak atau menentang pun bisa.

Kalau kita lihat lebih jauh, hubungan antara pemimpin dan pengikut selama ini lebih banyak dilihat dari sisi kepemimpinan alias leadership, bukan dari sisi kepengikutan alias followership. Entah tepat atau tidak menggunakan istilah kepengikutan sebagai terjemahan darifollowership, tetapi saya kira itu adalah istilah yang paling mewakili.

Kepemimpinan mendapat perhatian besar dalam kajian manajemen dan organisasi serta pemerintahan. Banyak sekali teori yang dikembangkan seputar ini. Berbagai macam pelatihan digelar untuk meningkatkan leadership bagi siapa saja yang diharapkan menjadi pemimpin bagi organisasi, perusahaan, maupun lembaga publik dan instansi pemerintah. Leader dipandang sebagai sosok yang menentukan nasib organisasi dan otomatis nasib banyak orang.

Sebaliknya, kepengikutan jarang dibahas. Kalaupun dibahas, sering hanya merupakan bagian atau chapter dari bahasan mengenai kepemimpinan.

Saya pertama kali mendengar soal followership dari Handry Satriago, Chief Executive Officer GE Indonesia. Melalui Youtube saya menonton penjelasannya soal kepengikutan ini ketika dia membahas topik Succession Planning.

Handry memang memberikan banyak perhatian soal kepengikutan. Disertasi doktornya di bidang manajemen strategis di Universitas Indonesia membahas soal ini melalui The Influence of Followers to Leader’s Performance: A Reverse Pygmalion Effect. Buku kumpulan twitnya yang berjudul #Sharing juga menyinggung soal kepengikutan.

Dalam masyarakat demokratis, sebenarnya peran para pengikut mendapat porsi yang relatif lebih besar dibandingkan dengan peran pengikut dalam lingkungan totaliter atau fasis. Demokrasi memberi ruang bagi rakyat jelata untuk ikut menentukan arah kebijakan para pemimpin.

Hal ini dapat pula diartikan bahwa dalam masyarakat demokratis, perhatian kepada followership perlu diberi porsi yang lebih besar. Bila pemimpin perlu dibekali dengan leadership agar bisa memimpin dengan baik, maka demikian pula dengan follower. Pengikut juga perlu memahami followership dengan baik. Secara sederhana, kajian mengenai followership menyoroti bagaimana meningkatkan kapasitas dan kemampuan pengikut untuk memastikan dan mendukung para pemimpin dalam menjalankan tugasnya.

Kepemimpinan dan kepengikutan adalah dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Pemimpin yang baik memerlukan pula pengikut yang baik. Pengikut yang buruk bisa menghasilkan atau menyeret pemimpin (menjadi) buruk. Pemimpin perlu tahu cara menyerap aspirasi, sedangkan pengikut perlu mengerti cara memberikan umpan balik dengan mekanisme yang tepat.

Di sisi lain, perkembangan Internet dan media sosial semakin memudahkan para followers dalam menyampaikan aspirasinya.

Dalam konteks negara, gabungan antara demokrasi dan media sosial menghasilkan kekuatan rakyat yang dahsyat.

Sayangnya, kalau kita amati belakangan ini, tampak ada fenomena yang mencemaskan terutama di media sosial. Masyarakat sebagai followers seperti terpolarisasi dalam merespons pemimpin dan melihat bahwa yang salah selalu salah di satu sisi, yang benar selalu benar di sisi yang lain.

Jika kebetulan idolanya menjadi pemimpin maka dia dianggap serba benar, semua langkahnya dianggap benar, tidak ada koreksi dan umpan balik sama sekali. Puja puji setinggi langit. Sebaliknya, jika tidak suka dengan sang pemimpin, maka apa pun yang dilakukan akan dianggap salah. Selalu ada celah untuk menyalahkan, mencari kelemahan, mendiskreditkan.

Pengkutuban ini benar-benar mirip cinta buta serta benci tuli. Suka setengah mati, dan benci tak terperi. Porsi rasionalias dan objektivitas berkurang atau bahkan lenyap.

Bagi saya, fenomena haters versus lovers yang berlebihan ini menunjukkan kepengikutan yang buruk. Barangkali dalam menjalankan demokrasi kita perlu lebih banyak belajar mengenai followership, agar tidak terpeleset menjadi fools ownership. (Setyadi Widodo-Bisnis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Ape Kabar Lur..... ???